Cara Menjaga Bisnis Tetap Hidup Selama Pandemi COVID-19

Kewirausahaan merupakan salah satu sektor yang terdampak pandemi virus corona jenis baru, COVID-19.

Oleh karena itu, para pelaku usaha harus khawatir untuk melanjutkan aksinya di tengah pandemi.

Penggunaan teknologi dan peluang pemantauan adalah kunci untuk membantu perusahaan terus bertahan dari pandemi COVID-19.

Berikut beberapa cara agar bisnis Anda tetap hidup dan tidak memburuk saat pandemi virus Corona, seperti dilansir laman Antara News.

1. Ubah fokus, buat produk terkait
Perusahaan makanan dan minuman yang kehilangan pembeli karena kendala sosial dapat mencari cara lain untuk menjaga perekonomian tetap berjalan.

Hutami Nadya, seorang analis data di Moka, penyedia layanan teller digital yang sedang berkembang, mengatakan toko bahan makanan dapat mengatasi hal ini tidak hanya dengan menjual makanan siap saji, tetapi juga bahan-bahan siap masak.

�Orang-orang sekarang hobi memasak,� kata Hotami. “Pesanan makanan mungkin tidak memuaskan. Banyak pengecer makanan dan minuman yang menjual paket yang hanya perlu memasak atau bahan mentah.”

Strategi ini juga bisa diterapkan pada bisnis fashion. Dengan menggunakan bahan-bahan yang sangat dicari konsumen, cobalah untuk menciptakan produk yang sangat dicari konsumen.

Misalnya, pengusaha yang memakai baju atau jilbab bisa beralih ke pembuatan masker kain yang kini sudah wajib dipakai, untuk mencegah penyebaran virus.

Perusahaan jasa kecantikan, seperti salon rambut, juga bisa mengelak dari strategi ini dengan mengalihkan fokus dari jasa ke ritel produk kecantikan. Hutami menyarankan agar produk yang biasa digunakan pelanggan bisa dikemas dan dijual melalui platform digital.

Ia berkata, “Atau coba kombinasi di rumah agar konsumen dapat menggunakan produk di rumah untuk dirinya sendiri.”

2. Promosi
Untuk sektor makanan dan minuman, promosi dapat dilakukan dengan menetapkan potongan harga atau paket menu tertentu. Menurut Hotami, promosi di tengah pandemi harus lebih keras pada layanan pengiriman.

�Promosi seperti gratis ongkos kirim bisa lebih menguntungkan,� ujarnya.

Hal tersebut tidak lepas dari peningkatan jumlah makanan yang diantar dari rumah selama jam kerja, menurut data Moka. Pesanan pengiriman naik 30 persen di minggu kedua bulan April.

Iklan di Fashion Store bisa diterapkan pada barang-barang yang paling laris. Ini karena konsumen saat ini cenderung membeli barang yang paling penting.

Prioritas untuk membeli pakaian bisa berubah karena orang menghabiskan waktu di rumah sekarang.

“Anda juga dapat memberikan voucher atau kartu hadiah dan membelinya nanti jika perlu.”

Sistem ini dirancang untuk membantu bisnis menghasilkan arus kas positif untuk membayar sewa, gaji karyawan, pembayaran modal perusahaan, asuransi, persediaan bahan baku, dana perbaikan, dan biaya lainnya.

3. Maksimalkan layanan online
Penjualan online menjadi andalan ketika orang tinggal di rumah dan membeli semua yang mereka butuhkan secara online.

Maksimalkan semua layanan online dan jangan lupa membuat aplikasi atau platform yang mudah diakses konsumen. Sebagai gantinya, ikuti berbagai penawaran ecommerce untuk memperluas produk di dunia maya.

4. Empati
Farid Fathallah, Associate Consultant di Iventure, menyatakan bahwa krisis wabah COVID-19 merupakan tempat di mana brand dapat berempati, peduli, dan menawarkan solusi.

“Ini adalah kebutuhan baru dan alami,” katanya.

Misalnya, sebuah perusahaan kosmetik sedang mereorientasi pabriknya untuk membuat hand sanitizer.

Merek juga bisa bertanggung jawab agar konsumen tidak takut. Pemilik restoran atau kafe dapat menyertakan bukti pemeriksaan suhu koki atau barista dalam pesanan pembeli sebagai jaminan kesehatan.

Menawarkan keuntungan dan solusi kepada konsumen, misalnya b. Kursus online gratis atau akses gratis ke siaran untuk sementara waktu agar orang tidak pernah bosan.

Bagaimanapun, merek akan mendapatkan karakter positif jika tidak hanya menjual, tetapi juga menyumbang dalam situasi sulit.